Antara Udang dan Ancaman Penyakit

by | Jul 18, 2022 | Budidaya Udang Vaname, Perikanan | 0 comments

Potensi dan keanekaragaman sumberdaya perikanan menjadikan sektor perikanan di Indonesia menempati peran yang sangat strategis. Salah satu sumberdaya perikanan yang memiliki kandungan gizi dan protein tinggi ialah udang. Untuk itu udang masih menjadi komoditas andalan dalam bidang perikanan yang perlu mendapatkan perlakukan lebih dalam pengembangannya.

Faktor utama yang kerap menjadi permasalahan bagi petambak dalam pengembangan budidaya udang baik saat proses pembenihan maupun pembesaran ialah terjadinya kematian massal akibat serangan penyakit. Karena pada dasarnya ketika kita melakukan budi daya udang dalam jumlah penebaran yang cukup tinggi, maka sebagai makhluk hidup udang membutuhkan lingkungan yang nyaman demi mendukung pertumbuhan dan meningkatkan angka kelulushidupan udang.

Penyebab Penyakit Udang  

1. Pathogen yang berasal dari virus, bakteri, jamur dan parasit.

2. Lingkungan memegang peran penting dalam keberhasilan budi daya udang. Apabila plankton yang berasa dalam perairan tidak stabil dan terdapat plankton beracun, DO rendah, pH tidak stabil serta ammonia/nitrat dalam keadaan tinggi, kondisi ini sangat memungkinkan udang terinfeksi.

3. Pakan sebagai kebutuhan utama udang nampaknya mampu berperan dalam kesehatan udang. Apabila petambak tidak tanggap dalam kondisi fisik dan kandungan pakan maka jelas akan membahayakan udang, misalnya dengan pemberian pakan yang sudah rusak (berjamur, menggumpal, tengik dan kadaluarsa). Selain itu penting juga untuk memperhatikan manajemen pakan, apabila pemberian pakan seara berlebihan atau overfeeding makan akan berpengaruh pada kualirtas air yang tidak jernih dan menghambat oksigen dalam lingkungan perairan.

Penyakit Pada Udang

Kehadiran hama dan virus tentu sangat mempengaruhi tingkat keberhasilan budi daya. Salah satu penyakit yang kerap menghantui para petambak ialah yellow head disease yang sempat kita bahas pada artikel sebelumnya. Namun tak dapat dipungkiri penyakit yang menyerangg udang sangatlah bervariasi, berikut sedikit penjelasannya:

1.Penyakit White Feces Disease (WFD)

Serangan penyakit yang mengakibatkan udang mengeluarkan kotoran putih, penyakit ini umumnya muncul pada usia 50-60 hari, dan menimbulkan dampak menurunnya produktivitas serta nafsu makan hingga tubuh udang menjadi keropos. Gejala utama yang tampak ialah kotoran udang berwarna putih memanjang, mengapung pada permukaan air dan eksoskeleton terlihat lembek.

Sebagai upaya pengendalian dengan pemberian ekstrak rimpang lengkuas merah kedalam pakan udang, serta penggunaan probiotik yang mengandung bacillus subtilis sebagai penghambat pertumbuhan bakteri vibrio.sp

2.Penyakit Enterocytozoon Hepatopenaei (EHP)

Penyakit EHP (Enterocytozoon hepatopenaei) pada udang baru-baru ini muncul dan menyerang udang pada tambak intensif maupun super intensif di Indonesia, dengan dampak mampu menghambat pertumbuhan udang dan menjadikan udang tidak memiliki ukuran yang seragam. Selain itu, faktor stress pada udang mampu menyebabkan serangan EHP menjadi lebih ganas sehingga berdampak pada kematian. Namun sayangnya, gejala akibat penyakit ini hanya dapat terdeteksi setelah udang positif terinfeksi. Dalam persebarannya, penyakit ini melalui microsporidia yang menginfeksi hepatoprankreas dan usus.

3.Penyakit Taura Syndrome

Penyakit Taura Syndrome atau “penyakit ekor merah” pada udang vannamei, karena adanya Taura Syndrome Virus pada tubuh udang. Taura Syndrome Virus (TSV). TSV sebagai penyakit yang cukup berbahaya dengan tingkat kematian (mortalitas) mencapai 95% pada populasi udang stadium post larvae dan juvenile.

Serangan TSV pada umumnya terjadi pada umur 14-40 hari pasca penebaran benur udang.  Apabila gejala klinis muncul pada umur 30 hari, kemungkinan penularan berasal dari induk (secara vertikal). Jika gejala klinis muncul pada umur lebih dari 60 hari, kemungkinan penularan berasal dari lingkungan (secara horizontal)

Infeksi TSV pada udang menimbulkan gejala klinis berupa warna tubuh yang menjadi kemerahan, terutama pada ekor udang. Gejala lain adalah munculnya bercak hitam (melanisasi) yang tidak beraturan di bawah lapisan kutikula pada udang

Langkah utama pengendalian TSV yaitu dengan biosekuriti dalam sistem budi daya udang melalui regulasi dan teknis yang terintegrasi dan berkesinambungan. Kedua, dengan skrining induk karena induk udang berpotensi besar dalam penularan TSV. Ketiga, pengamanan vektor dan karier pembawa TSV antara lain udang yang mengalami infeksi kronis, biota akuatik, hewan dan tumbuhan lain. Tidak kalah penting yaitu desinfeksi hingga pemusnahan segala bentuk peralatan yang berpotensi menyebarkan TSV.

Lalu, bagaimana langkah yang tepat?

Penyebaran penyakit udang sangatlah cepat, apabila sudah ada yang terinfeksi maka sebagai petambak harus sesegera mungkin melakukan tindak lanjut. Salah satu upaya pencegahan penyakit ialah dengan melakukan diagnosis yang mampu mendeteksi suatu patogen dengan akurat sehingga nantinya mampu menerapkan usaha pencegahan. Namun, apabila udang sudang terlanjur terinfeksi maka sebagai petambak perlu memberikan perlakuan penyembuhan sesuai dengan penyakit yang menginfeksi.

Sumber gambar:

https://mediapermata.com.bn/musim-tengkujuh-lubuk-udang-gantung-kampung-penarik/

www.globalseafood.org

Sumber:

https://kkp.go.id/

E-Book PT Mina Maritim Indonesia