Udang vaname (Litopenaeus vannamei) merupakan komoditas ekonomi penting yang berdasarkan data Food and Agriculture Organization (FAO) pada tahun 2020 menyumbang 52,9% dari total produksi udang dunia yang mencapai 9.4 juta ton (FAO, 2020).
Seiring dengan terus meningkatnya jumlah produksi udang di berbagai negara, industri budidaya udang menghadapi beberapa tantangan termasuk munculnya beberapa penyakit seperti infeksi hepatopancreatic microsporidiosis (HPM) yang disebabkan microsporidia Enterocytozoon hepatopenaei (EHP) serta penyakit Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND) yang juga dikenal sebagai Early Mortality Syndrome (EMS) yang disebabkan oleh strain spesifik dari bakteri Vibrio parahaemolyticus.
Epidemiologi EHP
Enterocytozoon hepatopenaei merupakan parasit yang pertama kali dilaporkan menyebabkan penurunan pertumbuhan atau disebut Monodon slow growth syndrome (MSGS) pada udang windu (Penaeus monodon) di Thailand pada tahun 2001 dan patogen penyebabnya diidentifikasi sebagai parasit baru berdasarkan analisis histopatologis, mikroskop elektron, dan filogenetik pada tahun 2009, kemudian secara resmi diidentifikasi sebagai penyebab HPM pada tahun 2009 (Thitamadee et al., 2016). Parasit EHP dilaporkan menginfeksi udang vaname dengan risiko penularan sangat tinggi sehingga menjadi salah satu ancaman serta faktor pembatas dalam budidaya. Penyakit EHP telah menyebar dan menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan di berbagai negara seperti Malaysia, India, Indonesia, China, dan Australia (Kooloth Valappil et al., 2021). Disusulkan, infeksi EHP juga ditemukan pada udang vaname di Korea Selatan pada tahun 2020. Saat ini, EHP dianggap sebagai salah satu ancaman utama terhadap budidaya udang dan memberikan keterbatasan besar pada budidaya udang di seluruh Asia.
Toksisitas EHP
Parasit EHP menginfeksi sel hepatopankreas yang mengakibatkan kerusakan sel dan mengganggu kemampuan udang untuk mencerna makanan. Kerusakan jaringan akibat infeksi EHP menyebabkan perubahan perilaku udang, penurunan nafsu makan dan keterlambatan pertumbuhan serta penurunan performa produksi udang yang jika dibiarkan akan menuju fase kematian. Meskipun sebagian besar study case menunjukan angka fase mortalitas penyakit ini cenderung rendah tidak seperti Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND) yang bisa menyebabkan kematian hingga 100%, penyakit EHP tidak berpengaruh langsung pada kematian, akan tetapi tetap saja memberikan dampak kerugian selama proses budidaya.
Metode Diagnosa Polymerase Chain Reaction (PCR)
PCR membantu mengidentifikasi penyakit infeksius.Teknik PCR didasarkan pada amplifikasi fragmen DNA spesifik dimana terjadi penggandaan jumlah molekul DNA pada setiap siklusnya secara eksponensial dalam waktu yang relatif singkat. Idealnya, terdapat 5 tahap dalam proses pengujian dengan metode PCR yakni nekropsi sampel, ekstraksi, amplifikasi, elektroforesis dan visualisasi hasil, Teknologi ini memberi kontribusi besar dalam mendeteksi kualitas mutu benur hingga indukan dan sebagai langkah dini pencegahan penyakit.
Langkah Preventif dan Pengendalian EHP
Pengendalian EHP Skala Hatchery
Merujuk pada webinar berjudul “Kenali Penyakit EHP (Enterocytozoon hepatopenaei) pada Udang dan Cara Antisipasinya” yang diadakan Minapoli, menjelaksan dengan mekanisme pola penularan yang ada, langkah preventif yang dapat diterapkan dengan pengendalian pada beberapa tahapan budidaya. Antara lain melalui pengelolaan induk udang dan benur di hatchery, serta saat persiapan kolam dan pengisian air di tambak. .
Pengelolaan induk agar terbebas dari EHP dengan menerapkan manajemen kualitas air yang ketat pada saat hatchery. Sterilisasi dapat diaplikasikan pada air kolam, pipa, dan tangki air dengan larutan yang mengandung 2,5% natrium hidroksida.
Pengendalian EHP Skala Tambak
Pastikan pembudidaya mendapatkan benur berasal dari hatchery nursery yang memiliki sertifikat SPF (Specific Pathogen Free). Kemudian pada saat pembesaran dapat diberi perlakuan:
- Manajemen pakan yang ketat agar tak terjadi overfeeding
- Pembuangan bahan organik secara teratur guna meminimalisir penumpukan sendimen
- Jika infeksi EHP ditemukan dalam tambak, maka perlu dilakukan peningkatan kecernaan pakan untuk meningkatkan absorpsi nutrisi
- Hindari penumpukan bahan organik pada sendimen dasar melalui pembuangan dengan teratur
Serangan penyakit merupakan salah satu mata rantai penyebab kegagalan produksi. Infeksi virus dan infeksi bakterial adalah penyebab utama terjadinya kematian massal udang baik saat pembenihan maupun pembesaran. Meskipun menjangkitnya penyakit dianggap berkaitan satu sama lain, namun informasi secara ilmiah mengenai hal tersebut belum banyak tersedia. Hal ini karena mekanisme penularan (model transmisi) suatu jenis patogen pada sistem budidaya udang vannamei belum diketahui secara pasti (Lilis Suryani, 2020)




