POLEMIK HARGA TELUR ANJLOK

Fakta Di Balik Anjloknya Harga Telur

Polemik harga telur yang anjlok menjadi isu nasional. Pasalnya, harga telur ayam turun hingga kisaran Rp.15.800/kg. Hal itu, bertentangan dengan Peraturan Mentri Perdagangan (Permendag) Nomor 7 Tahun 2020 mengenai Harga Acuan Pembelian tingkat Petani dan Harga Acuan Penjual Tingkat Konsumen, dengan harga acuan pembelian telur ayam Rp.19.000 s/d Rp. 21.000.

Sehingga, berangkat dari polemik tersebut, peternak ayam di sentra penghasil telur, kabupaten Blitar mengeluh harga telur ayam yang kian merosot. Berbanding terbalik dengan harga pakan yang melonjak tinggi. Mirisnya, dari sekitar 4.500 peternak di Blitar, ada sekitar 20 persen yang gulung tikar. Kabupaten Blitar sebagai sentra penghasil telur dapat memenuhi kebutuhan lokal hingga berbagai daerah.

Mengutip pernyataan Ketua Paguyuban Peternakan Rakyat Indonesia (PPRN), Alvino Antonio menjelaskan pemerintah perlu memperbaiki keadaan tata niaga penjualan harga ayam. Pasalnya harga produksi lebih tinggi dibandingkan harga jual, sehingga keadaan ini mampu menyengsarakan para peternak ayam.

Faktor Penyebab Utama Harga Telur Yang Kian Anjlok

Realitasnya, produksi telur yang meningkat dalam negri yang tidak sebanding dengan jumlah permintaan pasar menjadi salah satu faktor utama dalam polemik anjlok harga telur. Turunnya permintaan pasar saat ini merupakan dampak dari dibangunnya closed house ayam petelur komersial dan adanya pembatasan sosial pada saat ini, pernyataan tersebut disampaikan oleh Profesor Niken Ulupi, pakar peternakan dari Universitas IPB, dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Selasa (21/9/2021)

Selain itu, dengan keberadaan investor asing yang turut andil dalam kegiatan budi daya sector perunggasan juga menjadi salah satu penyebab.

Melihat kondisi ini, ratusan peternak bersama BEM (Badan Eksekutif Masyarakat) dari empat universitas menggelar aksi damai di beberapa titik Jakarta. Lapangan IRTI Monas, Kementrian Perdagangan, Kompleks DPR/MPR Senayan, Kementrian Sosial, Kantor Charoen Pokphand Indonesia, Japfa dan Kementrian Pertanian Regunan.

Salah seorang peternak asal Kabupaten Blitar, Rofi Yasifun menyampaikan bahwa ratusan massa yang terdiri dari beberapa kelompok siap untuk menggelar aksi damai. Aksi tersebut merupakan upaya menyikapi fenomena merosotnya harga telur.

“Tuntutan kami sebagai peternak ayam bersamaan dengan Badan Eksekutif Masyarakat agar pemerintah segera menaikan harga telur. Karena setiap harinya peternak merugi antara Rp8.000 hingga Rp9.000, yang sudah berlangsung sejak akhir bulan Juli” kata Rofi, Senin, (11/10/2021)

Sehingga, dalam aksi damai tersebut masa menuntut untuk Kementrian Perdagangan melakukan audiensi dengan membahas kebijakan yang mendukung perlindungan bagi peternak petelur rakyat.

Resolusi Kasus

Tak lama setelah berlangsungnya aksi damai di beberapa titik Jakarta. Lantas Pemkab Blitar melakukan pergerakan, dengan mendistribusikan 20 Ton telur ayam ke Kota Ambon dan Kota Tuai Maluku. Dengan kolaborasi kerja bersama Badan Ketahanan Pangan (BKP) dalam pendistribusian dan pemasaran. Senin, (1/11/2021).

Solusi ini semakin nyata, setelah adanya upaya sikap positif dari direktur utama PT. Charoen Pokphand Indonesia (CPI), Jemmy Wijaya dalam menyikapi harga telur yang semakin merosot.

PT.CPI berjanji untuk pihaknya tidak akan menambah jumlah produksi ayam petelur tahun ini. Serta, membeli telur ayam langsung dari peternak Jawa Timur dan Jawa Tengah dengan harga yang lebih tinggi dari harga pasaran peternak saat ini, yaitu Rp.17.000.

Berdasarkan solusi tersebut, Pemkab Blitar beserta BKP dan PT.CPI mengharapkan peternak ayam dapat merasakan dampak positif yang nyata. Serta mampu membangun hubungan yang baik antara peternak ayam dengan PT.CPI sebagai mitra kerja, sehingga keduanya mampu menyikapi masa kritis ini dengan lebih baik.

Sumber referensi: surabaya.liputan6.com
republika.co.id
kompas.com
tirto.id

Sumber foto: dispertan.bantenprov.go.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_ID