Budayakan Budidaya Perikanan

Budayakan Budidaya Perikanan

Produksi perikanan Indonesia berasal dari hasil tangkap dan budidaya. Melihat pergerakan visi Kementerian Kelautan dan Perikanan pada awal tahun 2021, nampaknya budayakan budidaya Perikanan atau memfokuskan kepada peningkatan hasil budidaya. Agenda tersebut bermaksud untuk meningkatkan nilai ekspor perikanan nasional dan menjaga ekosistem laut.

Ekspor

Berdasarkan liputan Antaranews.com, menurut Sekjen KKP, Antam Novambar dalam siaran 24 mei 2021. Secara keseluruhan nilai ekspor perikanan Indonesia pada tahun 2020 mencapai angka 5,2 miliar dollar AS. Nilai tersebut lebih tinggi dari tahun 2019 yang mencapai nilai 4,9 miliar dollar AS. Dari nilai ekspor yang tersebut, komoditas yang menjadi lokomotifnya adalah udang dan tuna-cakalang.

Langkah KKP dalam memenuhi kebutuhan pasar ekspor perikanan adalah memperkuat tiga sektor perikanan budidaya yaitu udang, rumput laut dan lobster. Menurutnya tiga komoditas tersebut memiliki nilai dan daya penyerapan yang tinggi di pasar dunia. Terlebih lagi tuna-cakalang dan cumi-sotong-gurita adalah komoditas hasil perikanan tangkap yang memiliki nilai tinggi juga.

Indonesia berhasil menjadi salah satu negara pengekspor komoditas perikanan terbesar di dunia. Dengan total ekspor produk ikan konsumsi senilai 4,84 miliar dollar AS dari total keseluruhan 5,2 miliar dollar AS. Menariknya pada Q1 tahun 2021, nilai ekspor produk perikanan sudah mencapai 1,27 miliar dollar AS. Tujuan ekspor utamanya adalah Amerika Serikat, China, negara-negara ASEAN dan uni Eropa.

Ekosistem Laut

Dalam perspektif kesehatan ekosistem lingkungan laut, kerusakan terjadi karena banyak faktor. Kegiatan manusia seperti penangkapan ikan menggunakan alat tangkap terlarang, jual beli karang, pariwisata dan pembuangan limbah dari daratan cukup merusak kelestarian lingkungan di laut. Salah satu biota yang paling terdampak dari kegiatan-kegiatan manusia di atas adalah terumbu karang.

Indonesia memiliki kekayaan terumbu karang yang besar potensinya. Menurut Greenpeace, total luasan terumbu karang di Indonesia mencapai 50.875 kilometer persegi. Luas tersebut menyumbang 18% dari luas total terumbu karang di dunia. Keanekaragaman spesies terumbu karang Indonesia yang tercatat ada sebanyak 590 spesies. Namun sayangnya terumbu karang di Indonesia masih sangat terancam keberadaannya.

Dari liputan tempo.co tanggal 30 Juli 2020, menurut Deputi Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam Kementerian Bappenas, Arifin Rudiyanto, keadaan terumbu karang di Indonesia sedang dalam keadaan yang memprihatinkan. Pasalnya total terumbu karang yang termasuk dalam kondisi sangat baik hanya 30%. Bagaimana dengan sisanya? 37% lainnya hanya dalam kondisi cukup baik dan sisanya rusak.

Hal tersebut sangat disayangkan, pasalnya terumbu karang memiliki peran penting dalam ekosistem laut. Terumbu karang berperan melindungi pantai dari erosi, banjir pantai, dan peristiwa perusakan lain yang diakibatkan oleh fenomena air laut, terumbu karang juga mempunyai nilai ekologis sebagai habitat, tempat mencari makanan, tempat asuhan dan tumbuh besar, serta tempat pemijahan bagi berbagai biota laut.

Selain itu, terumbu karang menjadi sumber protein bagi manusia melalui konsumsi ikan laut. Faktanya di Indonesia, sekitar 60% protein nabati berasal dari ikan.

Melihat potensi ekspor perikanan dunia dan kondisi memprihatinkan ekosistem laut, maka memang perlu untuk meningkatkan budidaya. Budidaya perikanan cukup mendorong ekonomi nasional dan ketahanan pangan selama beberapa tahun terakhir, tidak terkecuali saat pandemi. Namun dalam perspektif lingkungan, budidaya perikanan juga menghasilkan limbah yang banyak dan cukup berbahaya untuk lingkungan. Hal seperti algae blooming, penumpukan limbah dan kandungan logam berat sangat berbahaya bagi lingkungan, tidak terkecuali bagi ekosistem laut.

Solusi

Walaupun begitu perlu digarisbawahi bahwa hal tersebut dapat diatasi. Salah satu cara yang paling efektif adalah penggunaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) pada tambak. Dengan adanya lahan yang berfungsi untuk pengolahan limbah, maka air yang terbuang di sungai atau sawah tidak banyak mengandung zat berbahaya untuk lingkungan. IPAL berfungsi untuk mengolah air buangan tambak sebelum masuk ke sungai ataupun sawah.

Selain itu, bisa juga membangun tambak menggunakan sistem Integrated Multi-trophic Aquaculture (IMTA). IMTA merupakan metode pemanfaatan sistem perikanan terpadu dengan pendekatan alamiah untuk mengoptimalkan hasil budidaya, efisiensi pakan dan diversifikasi produk sekaligus ramah lingkungan.

Jadi, budidaya perikanan dapat menjadi solusi peningkatan nilai ekspor dan permasalahan kerusakan ekosistem laut. Meski begitu, syaratnya adalah memperhatikan limbah dan pembuangannya dengan cara seperti IPAL dan IMTA tadi. Dengan budayakan budidaya perikanan yang ramah lingkungan, nilai ekspor dapat naik dan ekosistem laut terjaga.

Sumber Referensi: kkp.go.id , antaranews.com , tempo.co , goodnewsfromindonesia.id , limnologi.lipi.go.id


id_ID